Nikmati Dunia Kita

Nikmati Dunia Kita

Kamis, 09 Agustus 2012

Tentang Seorang Lelaki Bertubuh Mungil



Dalam setiap lamunan seseorang meraka selalu memiliki pengharapan, mereka mempunyai khayalan, mereka mempunyai impian yang tidak selalu sama antara satu dengan yang lain. Kadang lamunan adalah titik awal seseorang untuk mengejar apa yang dilamunkannya maka kalimat klise “Semua berawal dari mimpi” menjadi benar adanya. Sama halnya dengan manusia lain sayapun tidak pernah terlepas dari lamunan, banyak hal yang saya khayalkan baik dari kebahagiaan atau kesedihan sekalipun, terkadang khayalan membawa kita dalam emosi bawah sadar. Saat kita melamunkan kita menjadi orang sukses, bahagia lahir batin, tanpa sadar kita menyunggingkan bibir kita, tersenyum sendiri penuh harap. Atau saat kita melamunkan suatu hari orang tua kita meninggal maka tanpa sadar pula ada sesuatu yang menusuk tenggorokan kita dan berinteraksi dengan mata sehingga jatuhlah air mata kita, yah...banyak hal yang tidak terjadi namun terlamunkan. Semua orang punya mimpi, semua orang punya harapan, semua orang punya khayalan tapi hanya sedikit orang yang betul-betul mengejar impiannya.
Terkadang lamunan saya menjadi sebuah keisengan, apalagi saat melihat Cleaning servis di kantor saya melamun, saya sering sekali iseng menebak apa yang dilamunkannya, mungkin si bapak bertubuh mungil itu melamunkan keluarganya yang jauh di sana, di tempat kelahirannya. Pada tubuh mungilnya itulah semua pengharapan dibebankan, beban hidup keluarganya di kampung, beban hidup dia disini, dengan gaji yang tak sebarapa dia berusaha mengejar impiannya, mimpinya bukan untuknya lagi tapi untuk anak-anaknya. Mungkin dalam lamunannya dia membayangkan bagaimana nasib sekolah anak-anaknya yang semakin mahal? Mampukah anaknya berjuang agar tidak seperti dia?. Terkadang lamunan liar saya berlarian, bagaimana jika bapak tersebut adalah bapak saya? Dihadapan saya dia membersihkan gedung 3 lantai ini sendirian saat matahari belum muncul dan saat matahari telah tenggelam. Memindahkan benda-benda berat dengan pundaknya, bercucuran keringat dan akhirnya duduk kelelahan, saya tidak akan pernah ikhlas jika bapak saya yang mengalami ini.
Kepada Pak Iyus yang senantiasa menemani saya mengobrol saat waktu senggang, percayalah bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, semoga bapak senantiasa bahagia dan ikhlas dalam setiap cucuran keringat yang bapak keluarkan, yakinlah bahwa Tuhan punya cara lain untuk membalasnya. Kepada Tuhan pemilik Alam semesta ini, pemilik jiwa raga kami berikanlah kami kekuatan agak bisa menjalankan apa yang menjadi kewajiban kami, lapangkan dada kami dalam menerima apapun dariMu, Ikhlaskan hati kami agar senantiasa tetap berada di jalanMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar