Oleh : Sri Aida Suryadi
Lelaki tinggi, kurus, putih pemilik hidung mancung yang berdiri di tengah lapangan upacara sambil mengangkat tangan dan menaruh di ujung alisnya itu adalah Aditya, Dia teman sekelasku yang sedang menikmati hadiah dari guru sejarah yang paling terkenal killer karna ketika Pak Asep (Guru Sejarah yang mengajar di kelas kami) sedang menerangkan, Adit (Panggilan Aditya) malah asik nonton video orang dewasa di Handphone BBnya, Tahun ini Adit berhasil mempertahankan predikatnya sebagai siswa yang mendapatkan hukuman terbanyak, ini adalah tahun ketiga Adit menyandang predikat itu di SMA Harapan bangsa yang artinya seharusnya ini jadi tahun terakhir Adit bersekolah di SMA ini tapi tidak ada yang tau apa Adit akan lulus tahun ini atau tidak karna melihat tingkah polah Adit yang sama sekali jauh dari harapan orang tuanya apalagi harapan bangsanya, ini tidak sesuai dengan tempat kami bersekolah. Setiap hari ada saja ulah Adit yang membuat seisi sekolah geger, Mulai dari mematikan semua sound saat kepala sekolah sedang berpidato, Bolos saat pelajaran berlangsung, datang kesekolah dengan gaya rambut full colour, membuat guru yang usianya sudah paruh baya hampir jatuh di tangga karna Adit menyiram anak tangga dengan minyak goreng yang dia ambil di kantin saat ibu kantin sedang lengah, membuat 1 kelas bubar saat pelajaran Biologi karna Adit membawa ular peliharaannya ke dalam kelas dan tanpa sepengetahuannya ular itu kabur dari tempatnya dan alhasil Adit dapat hukuman skors selama 2 minggu karena guru Biologi yang mengajar saat itu hampir masuk ICU karena penyakit jantungnya kumat. Semua orang akan heran kenapa mahluk macam itu masih di pertahankan di sekolah yang terkenal dengan Prestasi dan Kedisiplinannya ini. Usut punya usut dan tidak banyak orang tahu ternyata orang tua Adit adalah sahabat dekat pemilik sekolah sekaligus donatur terbesar di Sekolah ini dan atas hal ini aku percaya bahwa istilah “Dengan uang semua menjadi mungkin” itu benar adanya.
Hey Deva si Monkey... Tiba-tiba suara yang sudah tidak asing buatku itu terdengar dari belakang, dan ternyata benar dugaanku, Aditya Candra Sasmita dia satu-satunya orang yang paling fasih memanggilku Monkey, entah dapat wangsit dari mana Adit memanggilku dengan sebutan itu. Dalam hitungan detik Adit sudah berhadapan denganku “Ini tugas yang belom gw kerjain” ucapnya dengan santai, dan aku sudah terbiasa dengan hal ini sehingga secara otomatis tugas Adit berpindah tangan dan menjadi kewajibanku mengerjakannya. Pernah sekali aku coba menolak dan alhasil saat aku masuk sekolah esok harinya aku tidak punya meja dan kursi untuk duduk karna Adit memindahkannya ke tengah lapang upacara, satu kelas menjauhiku atas titah Adit. Mulai saat itu aku benci Adit, aku benci semua hal tentang Adit, Aku benci semua hal yang Adit suka. Saking bencinya aku sampai cari tahu apa hal yang adit suka dan yang Adit ga suka.. Aku mulai benci kangkung dan kerupuk saat tahu bahwa Adit suka sekali dengan kangkung dan Adit tidak bisa makan tanpa kerupuk. Aku jadi benci lagu-lagu Viera karna ring tone Handphone Adit adalah lagu Viera yang artinya adit suka lagu-lagu Viera. Aku benci Basket dan Skateboard karna adit ternyata hobby bermain Skate dan Adit adalah ketua Tim Basket sekolah.
Ini adalah hari-hari terakhir kami di Sekolah yang penuh Cerita, Kami telah menyelesaikan Ujian yang lebih menyeramkan di banding ruang BP dan buku hitam yaitu Ujian Akhir Nasional (UAN) nasib kami ditentukan oleh mahluk yang bernama UAN. Entah dari mana awalnya perjuangan kami selama 3 tahun di tentukan dengan Ujian yang lamanya 3 hari. Buatku ini aneh, dan ini penilaianku. Ada jeda waktu cukup lama setelah ujian akhir sampai pengumuman kelulusan keluar dan pihak sekolah sangat bijaksana melihat peluang ini. Dengan alasan Refresing dan menenangkan batin kami yang sempat dijajah oleh UAN diadakan-lah Tour dengan tujuan Yogyakarta, kami akan menghabiskan waktu disana selama 3 hari. Rencana perjalanan akan kami mulai malam ini sekitar pukul 20.00 WIB namun perjalanan ditunda karna ada 1 Siswa yang belum datang, dan jangan ragu mengira bahwa itu Adit, Sampai kapanpun dia akan tetap membuat masalah. 1 jam adalah waktu yang cukup membosankan untuk menunggu keberangkatan yang kami tunggu-tunggu, sampai Akhirnya Adit datang dengan santai dan tanpa beban. Entah apa yang ada di otaknya sampai bisa setenang itu padahal 1 sekolah sudah bersumpah serapah atas keterlambatan Adit, tapi Adit tetap Adit, Bukan Adit jika tanpa Sensasi. Adit mengenakan kaos putih dan kemeja kotak-kotak merah hitam yang dipadukan dengan Jeans di bawah lutut dan sepatu Converse warna hitam dengan membawa tas selendang seadanya. Aku akui Adit terlihat Cool dan tampan malam itu. Tapi......Ah... Dia lelaki yang paling aku benci.
Perjalanan kami mulai pukul 21.00 WIB dan sampai di Yogyakarta Pagi sekitar pukul 07.00, Setelah beristirahat sebentar penjelajahan di kota pelajarpun kami mulai, Mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, Malioboro, Taman Kota, Monumen perjuangan, Alun-alun kidul, Tugu Yogyakarta yang terkenal itu dan perjalanan kami berakhir di Bukit Bintang Patuk. Ini adalah tempat yang paling aku suka, berada di Kota bagian atas, kami sampai di Patuk pada malam hari, disini aku bisa melihat Yogyakarta dari ketinggian banyak lampu-lampu aku sangat suka hal ini.. Aku selalu merasa tenang dan nyaman di tempat seperti ini, Banyak Lampu yang berarti ada kehidupan aku menikmatinya dan sangat menikmatinya. Aditya.... dimana dia?? Kenapa aku tak melihatnya?? Tapi kenapa juga aku ingin melihatnya?? Ah.. tiba-tiba aku ingin mencarinya, entah kenapa... dan aku menemukannya Adit sedang duduk di atas trotoar sambil memeluk lututnya, nampaknya dia kedinginan, memang malam ini sangat dingin ditambah lagi kami memang ada di atas bukit, Aku memandangi Adit dari jauh, dibalik kerumunan teman-temanku yang lain. Lelaki yang aku benci itu tiba-tiba mempesona, Adit menghisap rokoknya sambil tetap memeluk lututnya mungkin untuk mengurangi rasa dingin, dan aku baru ingat Adit paling tidak tahan dingin, Dulu sempat saat akan pulang sekolah hujan turun sangat deras angin tak kalah kencang hingga membuat 1 sekolah mengurungkan niat untuk pulang dan tetap berada di gedung 3 lantai itu hingga cuaca benar-benar bersahabat, dan aku sempat melihat Adit di pojokan kantin berdua dengan teman wanitanya Shinta dengan posisi yang sama yaitu memeluk lutut dan menggigil, Shinta memakaikannya jaket agar lelakinya itu tidak kedinginan, Shinta adalah siswi populer di sekolah tidak ada satupun orang di sekolah yang tidak mengenalnya, dia Cantik, tajir, Shinta adalah ketua tim pemandu sorak 3 tahun berturut-turut dan sudah jadi rahasia umum bahwa Shinta dan Adit adalah pasangan yang cocok, Cantik dan tampan, sama-sama populer, dua-duanya adalah ketua Tim Ekskul Favorit di sekolah. Mereka pacaran cukup lama ± 2 tahun dan tidak banyak yang tahu bahwa mereka lebih sering ribut dibanding rukun, bisa sampai 3 kali dalam sehari mereka ribut (sudah macam minum obat saja mereka) aku tahu betul karna saat itu aku sangat benci Adit dan aku senang melihatnya menderita, kebetulan juga Adit duduk tepat di belakang mejaku sehingga aku sering mendengar saat Adit bersumpah serapah saat ribut dengan wanitanya itu sedang Shinta berbeda kelas dengan kami.
Aku menghampiri Adit yang sedang duduk di atas trotoar, entah setan apa yang memaksaku melangkah sehingga tiba-tiba aku sudah berada dihadapan lelaki yang aku benci itu, Aku gelagapan dan salah tingkah entah apa yang harus aku lalukan sehingga secara refleks aku memberikan sweater biru dongker miliku pada Adit. Adit menoleh ke atas dan melihatku menjulurkan sweater yang aku pegang, dia mengambilnya seraya berkata “Thanks..” dan aku hanya membalasnya dengan senyum dan segera berbalik kemudian pergi. “Deva...” tiba-tiba Adit memanggilku, aku terhenti “Bisa kamu temenin Adit sebentar?? Adit di tinggal temen-temen Adit, Adit ga ga tahan dingin, jadi Adit ga bisa kemana-mana” dan akhirnya aku berbalik dan duduk di sebelah Adit. “Makasih ya sweaternya.. Adit ga kuat dingin” Adit memulai pecakapan “Iah dit sama-sama” jawabku.. hening sesaat dan kali ini aku yang memulai percakapan “Tumben kamu ngomong halus sama aku dit.. biasanya aja Elo-Gw”, “Emang kenapa?? Kamu ga suka?? Dasar Monkey.. dibaikin malah protes” itu ucapnya, aku hanya bisa diam. Adit..Adit kamu memang paling fasih manggil aku monkey entah akan aku temukan lagi atau tidak mahluk macam kamu. Kami bercakap cukup panjang mulai dari kenapa Adit menjadi anak nakal dan selalu berbuat ulah hanya karna ingin diperhatikan, Adit yang ga mau banyak orang tau tentang keluarganya yang adalah keluarga kaya raya, Adit yang ga mau orang tuanya memberikan fasilitas berlebihan, Adit yang ternyata sempat kabur dari rumah dan hidup di jalanan yang membuat hidupnya sempat hitam, tapi dalam hidupnya yang hitamlah Adit memahami arti hidup yang sebenarnya, ketakutannya tidak lulus sekolah karna dia menyadari betul sikapnya selama ini hingga Adit bercerita tentang hubungannya dan Shinta telah berakhir alasan tepatnya aku kurang paham karna aku tidak berani menanyakannya pada Adit. Aku sangat menikmati percakapan malam itu baru kali ini aku memandang Adit sebagai lelaki yang menyenangkan dan dari situ kekagumanku pada Adit mulai timbul. Obrolan kami terpaksa terhenti karna pemandu tour sudah membunyikan toak nya dan memanggil kami semua untuk masuk kedalam Bis dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Kali ini aku duduk di pojok paling belakang sebelah kiri supir dan tiba-tiba ada seorang lelaki dengan sweater yang sangat aku kenal duduk di sampingku, Aditya tentunya “Perjalanan pulang kali ini aku ingin duduk di dekatmu” ucapnya cuek, “Kamu betah ya deket-deket sama aku J” candaku seraya senyum mengoda.. “Dasar kamu Monkey aneh.. secentil apapun kamu goda Adit, Adit ga akan tergoda karna kamu ga berbakat godain cowok” itu katanya sambil mengelus-ngelus kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku, Aku terdiam tanpa bahasa yang Adit lakukan barusan adalah hal yang paling aku suka, aku merasa sangat disayang dan merasa terlindungi jika ada yang melakukan hal itu. Perjalanan pulang cukup panjang dan melelahkan, Adit menawarkan bahunya untuk merebahkan kepalaku di atasnya, awalnya aku ragu dan nampaknya Adit melihat keraguanku sehingga Adit merangkulku dan menaruh kepalaku di bahunya. Ku tengok langit di luar jendela dan ternyata malam ini bulan purnama, bulan yang indah menemani perjalanan pulang kami, dengan suara sangat pelan aku berkata “Bulan Perjalanan Kita”. Sepertinya Adit kelelahan, dia tertidur sangat pulas, ku beranikan diri untuk memeluknya dan aku tertidur dalam pelukannya.
Ini waktu dimana kami akan tau nasib kami saat Acara perpisahan dan pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah mengumumkan bahwa siswa-siswi Kelas XII SMA Harapan Bangsa dinyatakan LULUS 100% dan keheningan itu tiba-tiba membuncah seketika dengan teriakan sebagai ungkapan kebahagiaan yang tak terbendung lagi, Tawa, tangis, peluk, cium semua menagih bentuk atas berita gembira ini. Tapi aku tak menemukan Adit, dimana dia?? Semua kawannya aku tanya tapi tidak ada yang tahu, hingga Handphoneku berbunyi tanda Sms masuk :
“ Slmat y Deva Monkey kta smua Lulus..
thanks kmu sering bntu Adit ngrjain tgas wlwpun Adit tau kmu kepaksa..Hehe..
Mfin Adit y..Adit skrng mau trusin kul di luar kota, jng lupain Adit ya..tnggu Adit plang”
Sender : Mr.A
Aku Deva.. Wanita yang sudah lebih dari 3 tahun masih setia menunggu Mr. A nya pulang..
Aku Deva.. Wanita yang sedang merindukan mahluk Tuhan yang suka makan kangkung dan tidak bisa makan tanpa kerupuk..
Aku Deva.. Wanita yang berusaha membenci lelaki yang tanpa disadari ternyata justru dicintainya..
Aku Deva.. Wanita yang selalu mendengarkan lagu-lagu Viera saat ingat lelakinya..
Aku Deva.. Wanita yang menaruh hati pada lelaki yang dia benci dan memilih untuk tetap menyimpannya di hati yang paling dalam hingga lelaki itu menyadari dengan sendirinya..
Ingat Aku jika kamu berada di bukit bintang dan Ingat aku saat bulan purnama...